Tips Jalan Jalan Hemat

Tips jalan jalan tanpa menguras tabungan. Pertama, bisa menggunakan kartu kredit yang memberikan hadiah/penawaran menarik untuk pesawat dan akomodasi/hotel. Kadang bisa dapat harga lebih murah sekaligus asuransi gratis saat membayarnya menggunakan kartu kredit.

Pergi di musim low season (non libur sekolah, lebaran, tahun baru, long weekend) biasanya sangat menghemat uang. Beli untuk perjalanan pertengahan minggu biasanya lebih murah. Jika punya fleksibilitas waktu, bisa mengambil saat low season untuk menikmati jalan jalan lebih hemat ini.

Menyewa rumah dan berbagi dengan wisatawan lain/rekan juga bisa menghemat daripada tinggal di hotel. Mendapat ruang yang lebih luas, menghemat biaya makan karena bisa memasak sendiri di dapur. Alasan susah cari makanan yang cocok (halal, vegetarian, diet) bisa juga diatasi dengan hal ini. Mengunjungi tempat yang kurang terkenal juga bisa menghemat biaya, toh juga memberi pengalaman baru.

Pergi berombongan dengan orang lain juga menghemat uang, bisa berbagi/split biaya hotel dan sewa kendaraan. Apabila teman atau keluarga menyukai hal ini, lakukan.

Membeli paket penginapan dan kapal pesiar juga bisa menghemat, karena biaya makanan, kamar dan aneka kegiatan sudah masuk ke dalam paket. Dengan begitu bisa dihindari keterkejutan melihat aneka tagihan kartu kredit saat kita tiba kembali di rumah.

Advertisements

Bad Work Habits

Happy new year 2019. Great time to do away with our bad ways once and for all, and focus on positive practises instead.

1. Bad language. Please polite, professional and respectable.

2. Spreading rumours or negatively talking about colleagues. Keep professional by politely excusing yourself if someone tries to engage you in gossip.

3.Letting emotions get the better of you at work. Take five and go for a walk to clear your head.

4.Procrastination. Eliminating distraction, switch your phone to silent, close all the unnecessary tabs on your browser and deactivate all notification until you get the job done.

5.Running late. Set your watch.or phone to be 10 minutes fast, get your gear and outfit organized the night before work, and plan your route to appointments so that you stay aheaf of the curve and on time.

Seek.com.au

Time For Happiness

Terjemahan bebas dari Harvard Business Review

Adam adalah pekerja yang baik yang mengejakanproyek yang dia yakini membawa dia promosi dan kenaikan, dengan cara umum : bekerja keras, memenuhi janji dan mendapat gaji lebih.dia punya waktu akhir pekan dengan keluarganya, namun dia juga tahu bisa mendapat penghargaan dari pengorbanan waktunya.

Kesuksesan demi kesuksesan proyek dia alami, tetapi dia tidak mendapat kebahagiaan. Saat malam di kemacetan dia merasa waktunya yang berharga terbuang.

Meski Adam merasa sudah betul, dia merasa kosong, dia merasa terjebak rutinitas, terutama dia tidak bisa menghabiskan waktunya dengan keluarga dan teman atau untuk dirinya sendiri.

Survey Gallup di USA menunjukkan 80% responden tidak punya waktu, menunjukkan kelaparan terhadap sesuatu yang berharga untuk hidup,yaitu waktu.

Keimisikinan ini terjadi pada seua tingkat, rendahnya tingkat kebahagiaan dan tingginya depresi/stress. Kurang kesenangan, kurang tertawa, kurang latihan, kurang sehat, waktu produktif mereka terbuang. Kemungkinan besar perceraian. Dan survey menunjukkan stress lebih memberikan dampak negative terhadap kebahagiaan daripada yang dirasakan pengangguran.

Secara umum, kemiskinan waktu ini berhubungan langsung dengan jutaan dollar biaya produktivitas perusahaan, dan dempak lainnya yang berlipat. Salah satu contributor terhadap meningkatnya obesitas. Biaya kesehatan ini menghabiskan 48 milyar dollar pertahun ( 550 triliun rupiah).

Ini sebuah ironi, persepsi masyarakat sekarang lebih panjang waktu bekerja dari zaman dulu tapi merasa waktunya banyak terbuang. Bagaimana bisa merasa kekurangan waktu ?

Jawabannya adalah di uang. Seperti Adam, kebanyakan terperangkap pada menghabiskan waktu untuk mendapat uang, karena percaya dengan uang membuat kita bahagia untuk jangka panjang.

Kebelakang, kenyataannya riset secara konsisten menunjukkan kebahagiaan orang didapat dengan uang untuk membeli waktu. Dari riset terhadap 100.000 pekerja dewasa di seluruh dunia menunjukkan mereka mengeluarkan untuk membeli waktu dengan mengalih dayakan tugas yang tidak mereka sukai demi mendapat hubungan social, kepuasan karir yang ujungnya hidup yang lebih bahagia.

Resolusi sebaiknya berfokus pada waktu, bukan uang. Ini tidak mudah karena dunia saat ini berorientasi uang. Tapi ini dapat dilakukan. Berikut strategi cerdas yang dapat dilakukan

Kenapa Kita Menghargai Uang Melebihi Waktu

Kelaparan waktu dapat dijelaskan karena rutinitas kerja. Berdasar riset waktu libur pria bertambah 6-9 jam di banding 50 tahun lalu, dan wanita bertambah 4-8 jam. Data tahun 1950 menunjukkan rerata kerja 37,8 jam per minggu, tahun 2017 menunjukkan 34,2 jam per minggu.

Dari studi 30.000 orang di Australia menunjukan semakin tinggi gaji seseorang semakin tinggi tingkat stress dan makin panjang jam kerja orang. Dengan kemampuan orang membayar taksi disamping naik kendaraan umum dan menyewa tukang pembersih rumah, kemiskinan waktu dapat diatasi. Namun sesuai dengan teori komoditi, semakin sering ini terjadi makin terasa kehilangan waktu.

Perasaan tidak aman dalam keuangan (meskipun sbenarnya makmur) dapat membuat orang semakin merasa miskin waktu. Karena orang yang tak yakin akan mendapatkan gaji akan mengorbankan lebih banyak waktu untuk untuk mendapatkan lebih banyak uang.

Disamping relasi berkebalikan antara kemakmuran dan waktu, kebanyakan kita ngotot mendapat lebih banyak uang. Dari riset, hanya 48% yang menginginkan waktu daripada uang. Dan orang yang sangat makmur juga tidak selalu memprioritaskan waktu daripada uang.

Hampir setengan dari 818 trilyuner yang disurvey mengatakan tidak mengeluarkan apapun untuk mendelegasikan pekerjaan yang tidak mereka sukai ke orang. Dari 98 pekerja dewasa yang ditanyai apakah mau mengeluarkan 40 USD untuk memaksimalkan kebahagiaan, hanya 2 yang mau. Dari 300 pasangan romantic yang ditanya apa mereka mau mengeluarkan 40 USD untuk kebahagiaan pasangan, hanya 3 yang mau.

Dalam sebuah studi 99% responden dapat menyebutkan pekerjaan yang tidak mereka sukai, hanya 175 yang mau membayar, ini bukan karena tidak yakin orang tidak dapat mengerjakan lebih baik. Kebanyakan bisa menyebutkan aktivitas hobi, mereka menyukai jika ada waktu, sangat sedikit yang bersedia membeli waktu untuk itu.

Inti tantangan untuk mengurangi kemiskinan waktu dan ketidak kebahagiaan bukan masalah finansial tapi psikologis. Kekeliruan anggapan bahwa kemakmuran membuat hidup lebih baik. Bahkan individu kekayaan bersih 10 juta dollar (140 milyar rupiah), merasa perlu meningkatkan kekayaan mereka secara drastis untuk meningkatkan kemakmuran dramatis yang lebih bahagia.

Riset menunjukkan pekerja beranggapan berlebihan bahwa imbalan tunai dan gaji ketika diterima bekerja. Mereka beranggapan gaji, asuransi dan keuntungan finansial seperti rencana pension akan menentukan kepuasan kerja. Mereka mengesampingkan fleksibilitas dalam jadwal pekerjaan.

Ketika menganalisis 42.721 pekerja di survey Glassdoor, ditemukan keuntungan nontunai seperti pengalaman social dan peluang cuti memberikan dampak lebih besar pada kepuasak kerja daripada uang. Salah satu analisi, cuti merawat anak, waktu fleksibel dan hari sakit memberikan kepuasan kerja lebih daripada tambahan 60 ribu dollar (900 juta rupiah). Dengan memperhatikan penda[atan, usia, kelamin, pendidikan, insutri, tipe pekerja, ukuran perusahaan dan keuntungan perusahaan.

Riset menunjukkan ketika orang sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya, tambahan yang tidak memberikan kebahagiaan yang lebih. Lebih dari itu, pilihan kita tidak mencerminka realitas ini.

Kenapa Kita Harus Menghargai Waktu Daripada Uang

Beberapa orang yang berjuang karena ketidakpastian masa depan merasa lebih bahagia ketika memilih uang daripada waktu. Tapi sangat jelas bahwa mereka harus berpikir ulang atas prioritas mereka.

Untuk mengerti kondisi ini, tim kami menampilkan ribuan partisipan yang digolongkan menjadi 2 individu yang namanya disesuaikan kelamin responden :

· Tina menghargai waktu lebih dari uang, dia akan mengorbankan uang untuk mendapat lebih banyak waktu. Misalnya dia akan bekerja lebih pendek waktu dan sedikit uang daripada bekerja lebih banyak waktu dan banyak uang.

· Maggie menghargai uang, kebalikan dari Tia

Dengan mengetahui jawaban mereka, kita dapat memprediksi jawaban pertanyaan apakah mereka memilih penerbangan yang lebih murah dengan transit atau penerbangan langsung yang lebih mahal. Dan apakah memilih voucher membersihkan rumah atau hadiah uang.

Kita juga mengetahui bahwa orang yang lebih menghargai waktu adalah orang lebih tua, bekerja lebih sedikit jam, lebih suka menjadi sukarelawan. Mereka lebih baagia 0,5 skala 10 skala kebahagiaan, dan rata-rata sudah menikah.

Dari sini dan studi lain kita juga dapat :

· Waktu menghasilkan kebahagiaan. Pada kasus Tina, kebahagiaan tidak dapat dijelaskan degan pendapatan, pendidikan, usia, status menikah, jumlah anak di rumah, jumlah jam kerja per minggu. Secara umum mereka mempropritaskan waktu yang membuat berbeda.Dari survey 6000 orang dewasa di Belanda, Denmark, USA dan Kanada, ditemukan bahwa orang yang menghabiskan uang untuk menghemat waktu lebih puas dalam hidupnya. Membeli waktu membuat responden dapat mengatasi stress dan mengurangi rasa kewalahan menghadapi daftar yg harus dikerjakan. Ini terjadi meski dengan sekali pembelian.

· Waktu adalah social. Studi prof Elizabeth Dunn dari Univ.Brit.Columbia, orang yang menghargai waktu lebih bersosialisasi dengan rekan. Studi ini menunjukkan orang menghargai waktu menghabiskan lebih 18% waktunya untuk berinteraksi dengan orang baru daripada uang itu sendiri. Karena berinteraksi dengan orang dapat mengurangi stress dan membawa kebahagiaan sebagaimana riset lain temukan. Di studi lain sekitar 40 ribu orang Amerika yang membeli waktu untuk weekend, 30 menit lebih waktu untuk teman dan keluarga, menghasilkan kebahagiaan. Tidak hanya karena bersosialisasi tapi karena kesenangan melakukan hal ini.Diantara 9 studi dengan 4.300 menunjukkan bahwa menghabiskan waktu berkualitas memberikaaan kepuasan hubungan. Membayar pembersih rumah memberikan kesempatan mendengarkan lebih baik.

· Fokus membangun waktu memberi penghargaa lebih pada karir. Pekerja yang bekerja dengan bahagia, mereka lebih sedikit stress dan lebih produktif dan kreatif. Kecil kemungkinan keluar

Kenapa Ini Sulit

Apabila solusi dengan waktu lebih kenapa masih juga stress?

Factor kebiasaan, anggapan sibuk mee\nandakan status lebih tinggi. Orang merasa bersalah jika bersantai. 5 menit bersosialisasi sring meningkatkan mood yang bermanfaat melebihi yang kita kira. Sebagian beranggapan kita punya waktu lebih di masa datang daripada sekarang, mengorbankann waktu sekarang dengan kenikmatan yang akan datang. Tentu saja masa depan tetap tidak punya waktu banyak dan kita mengulangi hal yang sama.

Faktor HRD. Insentif uang dikira membuat performa karyawan meningkat, kenyataannya semakin terobsesi dengan uang. Profesor NYU menemukan pekerja yang dibayar karena performa lebih akan berusaha mendapatkan insentif tambahan. Lebih focus pada diri sendiiri dan kurang mau berdonasi dimana kegiatan ini dapat memberikan kebahagiaan. Karyawan yang diberi insentif kurang bersosialisasi dengan teman dan keluarga dan lebih bersosialisasi dengan konsumen dan rekan kerja. Tidak peduli berapa jam bekerja dan di industry apa.

Kebijakan membuat pekerja memikirkan menguangkan waktunya sekaligus membuatnya stress. Pekerja dibayar seperti waktu adalah uang dan lebih konsentrasi pada waktu terbuang, waktu yang dihemat dan menggunakan waktu secara menguntungkan. Profesor Berkeley juga menemukan bahwa menanyakan gaji per jam untuk mereka membuat hormone kortisol-terkait stress, meningkat.

Bagaimana Memulainya ?

1. Aktivitas Pribadi

Rencanakan waktumu ke depan, dan jangan buang waktu pasif saat berlibur.

Lebih aktif, semangat menjadi sukarelawan, sosialisasi dan latihan mengubah seseorang. Ditemukan pula milyader lebih gembira karena menghabiskan 30 menit lebih untuk liburan aktif dan 40 menit liburan pasif.

Waktu lebih untuk makan, orang Perancis lebih bahagia karena lebih menikmati makanan daripada orang Amerika yang lebih lama memilih makanan.

Bertemu orang baru dan membantuya, meski makan waktu, tapi menambah perasaan cukup waktu

Menghabiskan lebih waktu untuk pengalaman, menambah persaan cukup waktu

Mengambil lebih banyak waktu libur, riset menunjukkan pekerja yang lebih banyak liburan dilaporkan mempunyai kepuasan hidup yang lebih

2. Membeli waktu

Alihdayakan tugasmu, dapat mengurangi stress dan meningkatkan kebahagiaan

Mengertilah apa yang apa kamu lepas, kebanyakan orang puas delivery bahan siap masak daripada makanan siap saji, karena orang menyukai memasak

Kurangi pembanding belanja, sebaiknya siapkan dari rumah, buka internet, sebelum berangkat ke supermarket

Beli waktu yang lebih baik, beli perjalanan yg lebih singkat untuk lebih lama menikmati waktu, misalnya membeli tiket pesawat langsung daripada transit.

3. Aktivitas kerja

Beli kembali waktu perjalanan, baca buku saat di taksi, sehingga waktu libur bisa digunakan untuk interaksi bersama keluarga.

Minta waktu lebih

Belajar untuk berkata tidak, jangan gunakan waktu sebagai alas an

Bagaimana Perusahan Dapat Membantu

Menghadiahi karyawan dengan waktu, bukan uang

Memberi hadiah berdasar waktu senilai uang

Voucher Buy 1 Gratis 1 Jam KTV Inul Vista

Pagi ini saya menukar Telkomsel Poin di wheel of poin, ternyata dapatnya voucher buy 1 gratis 1 jam KTV Inul Vista, yang berlaku sampai 31 Desember 2018.

Karena tidak saya pakai, silakan digunakan buat yang memerlukan. Ada 2 voucher, siapa duluan redeem, dia yang dapat. Ini vouchernya.

Trm ksh. Masukkan kode voucher 7160641204876418 utk Beli 1 gratis 1 jam reservasi KTV Inul Vizta di https://bit.ly/2ONQRwD sd 31Des2018. SKB

Trm ksh. Masukkan kode voucher 7200606084284032 utk Beli 1 gratis 1 jam reservasi KTV Inul Vizta di https://bit.ly/2ONQRwD sd 31Des2018. SKB

How Millennials Kill Everything

By: yuswohady.com
Berjaga jagalah pergeseran pola hidup sudah terjadi dan baca tulisan ini agar kita tidak terlambat dalam mengantisipasi perubahan yang akan terjadi dalam kehidupan kita :

*How Millennials Kill Everything*

Judul tulisan ini bakal menjadi judul buku baru..
Mudah-mudah buku ini bisa keluar dalam 2-3 bulan ke depan.
Coba googling dengan kata kunci “millennials kill”, maka Anda akan mendapati betapa milenial adalah “pembunuh berdarah dingin” yang membunuh apapun.

Di halaman pertama hasil pencarian Google saya menemui judul-judul menyeramkan seperti ini:
“RIP: Here Are 70 Things Millennials Have Killed”
“Things Millennials Are Killing in 2018”
“Millennials Kill Again. The Latest Victim? American Cheese”
“Millennials Are Killing the Beer Industry”
“How Millennials Will Kill 9 to 5 Job?”

Bahkan ada situs yang menulis:
“The Official Ranking of Everything Millennials Have Killed.”

Di dalamnya peringkat produk dan layanan yang paling cepat “dibunuh” oleh milenial. Ada dalam urutan peringkat itu produk-produk seperti: berlian di urutan 29; golf di urutan 23; department store di urutan 20; sabun batang di urutan 15; kartu kredit di urutan 10; dan bir di urutan 5.

Millennials Kill Everything New

Kenapa milenial bisa menjadi “pembunuh berdarah dingin” bagi begitu banyak produk dan layanan? Karena perilaku dan preferensi mereka berubah begitu drastis sehingga produk dan layanan tersebut menjadi tidak relevan lagi, alias punah ditelan zaman.

Contohnya golf. Tren dunia menunjukkan, sepuluh tahun terakhir viewership ajang-ajang turnamen golf bergengsi turun drastis setelah mencapai puncaknya di tahun 2015. Tahun lalu bahkan turun drastis 75%. Porsi kalangan milenial yang menekuni olahraga ini juga sangat kecil hanya 5%.

Olahraga elit ini memang digemari kalangan Baby Boomers dan Gen-X, namun tidak demikian halnya dengan milenial. Celakanya, semakin surut populasi Baby Boomers dan Gen-X, maka semakin tidak populer pula olahraga yang lahir sejak abad 15 ini. Dan bisa jadi suatu saat akan puhah.

Yang sudah kejadian sekarang adalah departement store. Tahun lalu kita menyaksikan departement store di seluruh dunia termasuk di Indonesia (Matahari, Ramayana, Lotus) pelan tapi pasti mulai berguguran.

Sumber penyebabnya adalah milenial yang bergeser perilaku dan preferensinya. Pertama karena mereka mulai berbelanja via online. Kedua, milenial kini tak lagi heboh berbelanja barang (goods), mereka mulai banyak mengonsumsi pengalaman (experience/leisure). Mereka ke mal bukan untuk berbelanja barang, tapi cuci mata, nongkrong dan dine-out mencari pengalaman penghilang stress.

Pasar properti beberapa tahun terakhir seperti diam di tempat. Alih-alih semua pelaku berharap ini hanya siklus “bullish-bearish” biasa yang nanti akan naik dengan sendirinya, saya curiga ini adalah kondisi “bearish berkelanjutan” sebagai dampak terbentuknya “new normal” perekonomian kita yang melesu dalam jangka panjang.

Mungkin biangnya bisa berasal dari pergeseran perilaku dan preferensi milenial. Beberapa kemungkinannya: Milenial mulai menunda nikah, menunda punya rumah, dan menunda punya anak. Belum lagi minimalist lifestyle yang kini banyak diadopsi milenial mendorong mereka memilih rumah ukuran mini.

Program KB yang sukses membuat late Baby Boomers dan Gen-X membentuk keluarga kecil dengan dua anak. Dengan jumlah anggota keluarga yang kecil, maka anak-anak mereka (milenial) cenderung menempati rumah orang tua dan sharing dengan sesama saudara. So, tak perlu beli rumah baru lagi. Ini yang menjadi biang kenapa market size properti cenderung mandek.

Tak hanya itu, tempat kerja pun nantinya pelan tapi pasti bisa “dibunuh” oleh milenial. Bagi Baby Boomers dan Gen-X bekerja rutin tiap hari masuk kantor dari jam 8 pagi sampai 5 sore (“8-to-5”) adalah sesuatu yang lumrah. Namun tak demikian halnya dengan milenial.

Milenial mulai menuntut fleksibilitas dalam bekerja. Bekerja di manapun dan kapanpun bisa asal kinerja yang dikehendaki tetap tercapai. Kini mereka mulai menuntut pola kerja: “remote working”, “flexible working schedule”, atau “flexi job”. Survei Deloitte menunjukkan, 92% milenial menempatkan fleksibilitas kerja sebagai prioritas utama.

Tren ke arah “freelancer”, “digital nomad” atau “gig economy” kini kian menguat. Kerja bisa berpindah-pindah: tiga bulan di Ubud, empat bulan di Raja Ampat, tiga bulan berikutnya lagi di Chiang May. Istilah kerennya: workcation (kerja sambil liburan).

Apa dampak dari millennial shifting tersebut terhadap kantor-kantor yang masih menerapkan working style ala Baby Boomers dan Gen-X? So pasti kantor-kantor jadul itu akan ditinggalkan angkatan kerja yang nantinya bakal didominasi milenial. Kantor itu akan punah dan melapuk.

Millennials will kill everything!!!
Have we change the way we do our business in order to face the millenials way of life?

Lebih Produktif Bekerja Di Rumah

Ada 7 cara menurut Tucker Schreiber dari Enterpreneurship.

Bekerja di rumah identik dengan baju santai, bebas apa yang dikerjakan dan diinginkan. Tampaknya menyenangkan jika tidak ada godaan/gangguan lain.

Bagaimana tetap produktif sementara ada kucing lucu minta dipeluk, atau ada tumpukan piring di wastafel?.

Tetap penting menjaga kerapihan sekalipun bekerja di rumah dan tidak punya atasan yang selalu mengawasi. Karena kesemrawutan menggambarkan kesemrawutan pola pikir (Albert Einstein).

Bagaimana cara tetap produktif bekerja di rumah, terlepas dari tipe pekerjaan anda :

  1. Pisahkan ruang pribadi dan ruang kerja. Nonton film saat bekerja sangat menurunkan produktivitas.
  2. Rapikan barang yang terserak. Kurangi hal yang mengganggu konsentrasi bekerja.
  3. Berpakaian yang rapi. Mando dan memakai kemeja memberikan pengaruh penting dalam mindset bekerja, daripada pakai baju tidur, minum kopi dan makan junk food.
  4. Investasi dengan membeli furnitur kerja yang cantik dan ergonomis. Pertimbangan meja tinggi, yang menjaga punggung tegak dan produktif.
  5. Pertimbangkan sesekali bekerja di coworking space
  6. Siapkan makanan seminggu ke depan. Masak dalam jumlah besar dan simpan di Tupperware menghindari buang waktu saat jam kerja.
  7. Paling penting, tahu kapan beristirahat. Boleh saja ja. istirahat nonton TV yang penting happy.